Latest Games :

te0ri-te0ri pendidikan

Senin, 02 Juni 2014 | 0 komentar



BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Alangkah pentingnya kita berteori dalam praktek di lapangan pendidikan karena pendidikan dalam praktek harus dipertanggungjawabkan. Tanpa teori dalam arti seperangkat alasan dan rasional yang konsisten dan saling berhubungan maka tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya didasarkan atas alasan-alasan yang kebetulan, seketika dan tidak dapat dipertanggung jawabkan. Hal itu tidak boleh terjadi karena setiap tindakan pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik. Bahkan pengajaran yang baik sebagai bagian dari pendidikan selain memerlukan proses dan alasan rasional serta intelektual juga terjalin oleh alasan yang bersifat moral. Sebabnya ialah karena unsur manusia yang dididik dan memerlukan pendidikan adalah makhluk manusia yang harus menghayati nilai-nilai agar mampu mendalami nilai-nilai dan menata perilaku serta pribadi sesuai dengan harkat nilai-nilai yang dihayati itu. Sesuai ucapan Dr. Gunning yang dikutip Langeveld (1955). “Praktek tanpa teori adalah untuk orang idiot dan gila, sedangkan teori praktek hanya untuk orang-orang Jenius”.
Ini berarti bahwa sebaiknya pendidikan tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang mampu bertanggung jawab secara rasional, sosial dan moral. Sebaliknya apabila pendidikan dalam praktek dipaksakan tanpa teori dan alasan yang memadai maka hasilnya adalah bahwa semua pendidik dan peserta didik akan merugi. Kita merugi karena tidak mampu bertanggung jawab atas esensi perbuatan masing-masing dan bersama-sama dalam pengamalan Pancasila.
Untuk itu, dalam makalah ini akan dibahas mengenai teori dan pilar pendidikan dengan harapan makalah ini dapat berguna untuk para pembaca.

B. TUJUAN INSTRUKSIONAL
             Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu memberikan pemahaman kepada mahasiswa sebagai calon-calon tenaga pendidik tentang teori-teori  dalam pendidikan dan macam-macam pilar pendidikan sistematis agar dapat menangkap makna setiap gerak dinamika pemikiran-pemikiran dalam pendidikan.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori-teori Pendidikan

     Teori pendidikan merupakan landasan dalam pengembangan praktik-praktik pendidikan, misalnya pengembangan kurikulum, proses belajar-mengajar, dan manajemen sekolah. Kurikulum dan pembelajaran memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu kurikulum dan rencana pembelajaran disusun dengan mengacu pada teori pendidikan. Ada 4 (empat) teori pendidikan, yaitu (1) pendidikan klasik, (2) pendidikan personal, (3) teknologi pendidikan, dan (4) pendidikan interaksional.

1)    Teori Pendidikan Klasik (Classical Education)

     Teori pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat klasik, seperti perenialisme, essensialisme, dan eksistensialisme, yang memandang bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya. Teori pendidikan ini lebih menekankan peranan isi pendidikan dari pada proses. Isi pendidikan atau materi diambil dari khazanah ilmu pengetahuan yang ditemukan dan dikembangkan para ahli tempo dulu yang telah disusun secara logis dan sistematis Misalnya teori fisika, biologi, matematika, bahasa, sejarah dan sebagainya.
Perbedaan padangan tentang faktor dominan dalam perkembangan manusia tersebut menjadi dasar perbedaan pendangan tentang peran pendidikan terhadap manusia, mulai dari yang paling pesimis sampai yang paling optimis.  Aliran-aliran itu pada umumnya mengemukakan satu faktor dominan tertentu saja dan dengan demikian suatu aliran dalam pendidikan akan mengajukan gagasan  untuk mengoptimalkan faktor tersebut untuk mengembangkan manusia. Dalam prakteknya, pendidik mempunyai peranan besar dan lebih dominan, sedangkan peserta didik memiliki peran yang pasif, sebagai penerima informasi dan tugas-tugas dari pendidik.
     Pendidikan klasik menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum subjek akademis, yaitu suatu kurikulum yang bertujuan memberikan pengetahuan yang solid serta melatih peserta didik menggunakan ide-ide dan proses “penelitian”, melalui metode ekspositori dan inkuiri.

2)    Teori Pendidikan Personal (Personalized Education)

     Teori pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa sejak dilahirkan anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Pendidikan harus dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dengan bertolak dari kebutuhan dan minat peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik menjadi pelaku utama pendidikan, sedangkan pendidik hanya menempati posisi kedua, yang lebih berperan sebagai pembimbing, pendorong, fasilitator dan pelayan peserta didik.
     Teori ini memiliki dua aliran yaitu pendidikan progresif dan pendidikan romantik. Pendidikan progresif dengan tokoh pendahulunya -Francis Parker dan John Dewey- memandang bahwa peserta didik merupakan satu kesatuan yang utuh. Materi pengajaran berasal dari pengalaman peserta didik sendiri yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Ia merefleksi terhadap masalahmasalah yang muncul dalam kehidupannya. Berkat refleksinya itu, ia dapat memahami dan menggunakannya bagi kehidupan. Pendidik lebih merupakan ahli dalam metodologi dan membantu perkembangan peserta didik sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya masing-masing. Pendidikan romantik berpangkal dari pemikiran-pemikiran J.J. Rouseau tentang tabula rasa, yang memandang setiap individu dalam keadaan fitrah, memiliki nurani kejujuran, kebenaran dan ketulusan.
     Teori pendidikan personal menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum humanis. yaitu suatu model kurikulum yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan dan proses aktualisasi diri. Kurikulum humanis merupakan reaksi atas pendidikan yang lebih menekankan pada aspek intelektual (kurikulum subjek akademis).

3)    Teknologi Pendidikan

     Teknologi pendidikan yaitu suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. Namun diantara keduanya ada yang berbeda. Dalam teknologi pendidikan, yang lebih diutamakan adalah pembentukan dan penguasaan kompetensi atau kemampuan-kemampuan praktis, bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama.      Dalam konsep pendidikan teknologi, isi pendidikan dipilih oleh tim ahli bidangbidang khusus. Isi pendidikan berupa objek dan keterampilan-keterampilan yang yang mengarah kepada kemampuan vokational. Isi disusun dalam bentuk disain program atau disain pengajaran dan disampaikan dengan menggunakan bantuan media elektronika, dan para peserta didik belajar secara individual. Peserta didik berusaha untuk menguasai sejumlah besar bahan dan pola-pola kegiatan secara efisien. Keterampilan-keterampilan barunya segera digunakan dalam masyarakat. Guru berfungsi sebagai direktur belajar (director of learning), lebih banyak tugas-tugas pengelolaan dari pada penyampaian dan pendalaman bahan.
     Teknologi pendidikan menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum, yaitu model kurikulum yang bertujuan memberikan penguasaan kompetensi bagi para peserta didik. Pembelajaran dilakukan melalui metode pembelajaran individual, media buku atau pun media elektronik, sehingga pebelajar dapat menguasai keterampilan-keterampilan dasar tertentu.

4)    Teori Pendidikan Interaksional
           
     Pendidikan interaksional yaitu suatu konsep pendidikan yang bertitik tolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dan bekerja sama dengan manusia lainnya. Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan juga berintikan kerja sama dan interaksi. Dalam pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak dari guru kepada peserta didik dan dari peserta didik kepada guru. Lebih dari itu, interaksi ini juga terjadi antara peserta didik dengan materi pembelajaran dan dengan lingkungan, antara pemikiran manusia dengan lingkungannya. Interaksi ini terjadi melalui berbagai bentuk dialog. Dalam pendidikan interaksional, belajar lebih sekedar mempelajari fakta-fakta. Peserta didik mengadakan pemahaman eksperimental dari fakta-fakta tersebut, memberikan interpretasi yang bersifat menyeluruh serta memahaminya dalam konteks kehidupan. Filsafat yang melandasi pendidikan interaksional yaitu filsafat rekonstruksi sosial.           Pendidikan interaksional menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum rekonstruksi sosial, yaitu model kurikulum yang memiliki tujuan utama menghadapkan para peserta didik pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia. Peserta didik didorong untuk mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masalah-masalah sosial yang mendesak (crucial) dan bekerja sama untuk memecahkannya.


B. Pilar-pilar Pendidikan
     Ada lima pilar pendidikan yang direkomendasikan UNESCO yang dapat digunakan sebagai prinsip pembelajaran yang bisa diterapkan di dunia pendidikan (dalam Suwarno, 2006).

1)    Learning to know
     Learning to know bukan sebatas proses belajar di mana pebelajar mengetahui dan memiliki materi informasi sebanyak-banyaknya, menyimpan dan mengingat, namun juga kemampuan untuk dapat memahami makna dibalik materi ajar yang telah diterimanya. Dengan learning to know, kemampuan menangkap peluang untuk melakukan pendekatan ilmiah diharapkan bisa berkembang yang tidak hanya melalui logika empirisme semata, tetapi juga secara transcendental, yaitu kemampuan mengaitkannya dengan nilai-nilai spiritual.

2)    Learning to do
     Learning to do merupakan konsekuensi dari learning to know. Kelemahan model pendidikan dan pengajaran yang selama ini berjalan adalah mengajarkan “omong” (baca: teori), dan kurang menuntun orang untuk “berbuat” (praktik). Learning to do bukanlah pembelajaran yang hanya menumbuhkembangkan kemampuan berbuat mekanis dan keterampilan tanpa pemikiran; tetapi mendorong peserta didik agar terus belajar bagaimana menumbuhkembangkan kerja, juga bagaimana mengembangkan teori atau konsep.

3)    Learning to be
Melengkapi learning to know dan learning to do, Robinson Crussoe berpendapat bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri tanpa kerja sama atau dengan kata lain manusia saling tergantung dengan manusia lain. Manusia di era sekarang ini bisa hanyut ditelan waktu jika tidak berpegang teguh pada jati dirinya. Learning to be akan menuntun peserta didik menjadi ilmuwan sehingga mampu menggali dan menentukan nilai kehidupannya dan menentukan nilai kehidupannya sendiri dalam hidup bermasyarakat sebagai hasil belajarnya.

4)    Learning to live together
     Learning to live together ini mengajarkan seseorang untuk hidup bermasyarakat dan menjadi manusia berpendidikan yang bermanfaat baik bagi diri sendiri dan masyarakatnya maupun bagi seluruh umat manusia. Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok individu yang bervariasi akan membentuk kepribadian pebelajar untuk memahami kemajemukan dan melahirkan sikap-sikap positif dan toleran terhadap keanekaragaman dan perbedaan hidup.

5)    Learning how to learn
     Proses belajar tidak boleh berhenti begitu saja meskipun seorang pebelajar telah menyelesaikan sekolahnya. Manusia hidup pada hakekatnya adalah berhadapan denganb masalah. Setiap manusia dituntut untuk menyelesaikan masalah. Satu masalah terjawab, seribu masalah menunggu untuk dijawab. Oleh karena itu, learning how to learn akan membawa peserta didik pada kemampuan untuk dapat mengembangkan strategi dan kiat belajar yang lebih independen, kreatif, inovatif, efektif dan efisien, dan penuh percaya diri, karena masyarakat adalah learning society atau knowledge society. Orang-orang yang mampu menduduki posisi sosial yang tinggi dan penting adalah mereka yang mampu belajar terus- menerus.
     Learning how to learn memerlukan model pembelajaran baru, yaitu pergeseran dari model belajar menghafal menjadi model belajar mencari/ meneliti. Asumsi yang digunakan dalam model belajar “menghafal” adalah “pendidik tahu”, peserta didik tidak tahu. Oleh karena itu, pendidik memberi pelajaran, peserta didik menerima. Yang dipentingkan dalam model belajar “menghafal” ini adalah penerima pelajaran, menyimpan selama-lamanya, dan menggunakannya sesuai dengan aslinya serta menurut instruksi yang telah diberikan. Sebaliknya, pada proses belajar “mencari/meneliti”, peserta didik sendiri yang mencari dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dihadapinya, sedang pendidikan dituntut membimbing, memotivasi,menfasilitasi, memprovokasi, dan menelusuri.




PENUTUP
A. Simpulan
v Alangkah pentingnya kita berteori dalam praktek di lapangan pendidikan karena pendidikan dalam praktek harus dipertanggungjawabkan.
v Teori pendidikan merupakan landasan dalam pengembangan praktik-praktik pendidikan, misalnya pengembangan kurikulum, proses belajar-mengajar, dan manajemen sekolah.
v Ada 4 (empat) teori pendidikan, yaitu:
(1) Teori pendidikan klasik,
(2) Teori pendidikan personal,
(3) Teori teknologi pendidikan, dan
(4) Teori  pendidikan interaksional.
v Pilar-pilar Pendidikan ada 5 (lima), yaitu :
(1)               Learning to know
(2)               Learning to do
(3)               Learning to be
(4)               Learning to live together
(5)               Learning how to learn

B. Saran
Melalui makalah tentang teori dan pilar-pilar pendidikan ini, yang di pelajari pada mata kuliah Dasar-dasar Pendidikan, diharapakan pembaca khususnya mahasiswa bisa lebih berpikir teoritis dalam hal belajar dan pendidikan.
Krena dengan berdasar kepada teori itu akan  lebih mempermudah dalm pratiknya, apalagi sebagai seorang calon guru MI (Madrasah Ibtidaiyah, antara Teori dan Peraktik itu harus seimbang. Dan diharapakan mampu mempengaruhi keberhasilan pengajaran nanti di Madrasah.






DAFTAR PUSTAKA

Continue Reading

pondokpesantren darussalam

Kamis, 29 Mei 2014 | 0 komentar

Di antara visi dan misi Pondok Pesantren Darussalam yang terpenting adalah mencerdaskan kehidupan bangsa/umat. Visi dan misi ini diimplementasikan ke dalam tujuan, sistem, dan organisasi pendidikan yang diselenggarakan di pondok pesantren ini. Melalui sejarahnya yang panjang (berdiri tahun 1929, oleh K.H. Ahmad Fadlil), kini Pondok Pesantren Darussalam telah berkembang dan mencapai kemajuan yang amat menggembirakan. Pondok pesantren yang pada awal berdirinya hanya memiliki sebuah rumah tempat tinggal kiai, sebuah masjid dan sebuah asrama (pondok) yang sangat sederhana, kini telah memiliki fasilitas bangunan yang relatif lengkap dan beberapa diantaranya cukup megah.
Pada masa awal berdirinya Pesantren Darussalam hanya menyelenggarakan pendidikan “pengajian” dengan menggunakan kitab-kitab Islam klasik; tetapi sejak tahun 1967 mulai dirintis penyelenggaraan sistem pendidikan modern, dan sampai saat ini semua jenjang pendidikan dari mulai Taman Kanak-kanak/TK (di Pesantren Darussalam disebut Raudhatul Athfal/RA) hingga Perguruan Tinggi telah ada di pesantren ini.

Sejarah Perkembangan

Pondok Pesantren Darussalam didirikan sebelum negeri ini merdeka, tepatnya pada tahun 1929 di sebuah dusun bernama Dusun Cidewa, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Pada sat didirikannya, pesantren ini tentu saja amat sederhana. Sarana dan prasarana yang dimilikinya pun amat minim, yaitu sebuah mesjid dan sebuah asrama yang sangat sederhana.
Pada saat itu, sebagaimana pesantren-pesantren lain, para santri di Pesantren Darussalam diharuskan mengikuti Undang-undang Ordonansi Belanda yang membatasi materi dan kitab-kitab teks pengajian. Para santri tidak bisa leluasa untuk mengkaji materi-materi dan kitab-kitab tertentu. Kendati demikian, pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda tersebut tidak mengurangi minat para pemuda untuk belajar di pesantren-pesantren, termasuk di Pesantren Darussalam (Pesantren Cidewa waktu itu), hingga pada saat itu jumlah santri di pesantren ini mencapai kurang lebih 400 orang santri putera (belum menerima santri puteri).
Dengan jumlah santri yang relatif banyak untuk ukuran waktu itu, wajar bila Pesantren ini selalu diawasi dan menjadi pusat perhatian Pemerintah Kolonial Belanda. Setelah bangsa Indonesia merdeka, sedikit demi sedikit mengembangkan berbagai sarana dan fasilitas pendidikan yang diperlukan oleh para santri. Di samping peningkatan fasilitas dan sarana pendidikan untuk santri, hal yang sangat penting adalah pengembangan sistem pendidikannya. Ketika di banyak pondok pesantren lain masih mengkhususkan aktivitas pendidikannya pada pengajian kitab, Pesantren Darussalam mulai merintis untuk menyelenggarakan pendidikan formal. Maka sejak dasa warsa enam puluhan, Pesantren Darussalam mulai memodernisasikan sistem pendidikannya dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan formal.
Lembaga pendidikan formal yang pertama didirikan adalah Raudhatul Athfal (Taman Kanak-kanak) pada tahun 1967, kemudian pada tahun 1968 berdiri Madrasah Ibtidaiyah/MI (setingkat SD) dan Madrasah Tsanawiyah/MTs (setingkat SLTP), dan selanjutnya pada tahun 1969 berdiri Madrasah Aliyah (setingkat SLTA), yang selanjutnya dijadikan Madrasah Aliyah Negeri atas permintaan Departemen Agama dan selama Departemen Agama belum menyediakan dana untuk keperluan itu, maka penyelenggaraannya diserahkan kepada Pondok Pesantren Darussalam.
Alhamdulillah sampai saat ini Madrasah Aliyah di Pesantren Darussalam telah mengalami perkembangan yang amat menggembirakan, terutama sejak Departemen Agama menetapkan Pesantren Darussalam sebagai salah satu penyelenggara Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK), yang akhirnya diganti dengan nama Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK).
Melihat potensi santri Pondok Pesantren Darussalam dan juga keadaan masyarakat di Kabupaten Ciamis yang cukup menggembirakan, maka pada tahun 1970 di Pondok Pesantren Darussalam berdiri Perguruan Tinggi Islam pertama di Kabupaten Ciamis, dengan nama Fakultas Syari’ah Darussalam Ciamis Jawa Barat, sebagai cikal bakal berdirinya Institut Agama Islam Darussalam (IAID).
Sampai saat ini, Institut Agama Islam Darussalam (IAID) telah memiliki tiga fakultas, yaitu Fakultas Syari’ah, Fakultas Tarbiyah, dan Fakultas Dakwah; 3 Program, yaitu Program D-2 PGTK/RA, D-2 PGSD/MI, dan Program Pascasarjana (S-2) Program Studi Pendidikan Islam.

Berkembang dengan Visi yang Jelas

Menyadari pentingnya visi yang jelas dalam suatu lembaga pendidikan, maka Pesantren Darussalam menetapkan enam visinya sebagai salah satu instrumen penting dalam penyelenggaraan sebuah lembaga pendidikan. Enam visi Pesantren Darussalam, yaitu menjadi lembaga pendidikan Islam yang mampu menghasilkan santri yang:
1. Menguasai ilmu-ilmu Bahasa Arab, ilmu-ilmu agama Islam, dan ilmu-ilmu Bantu lainnya,
2. Berwawasan mondial,
3. Memahami dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek),
4. Memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pengembangan akhlak bangsa,
5. Memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masalah-masalah lingkungan hidup, dan
6. Berwawasan kerakyatan dan peduli terhadap kemajuan serta kesejahteraan bangsa Indonesia.
Visi Pesantren Darussalam itu mengisyaratkan perlu adanya pemikiran ulang yang bersifat strategis tentang misi dan tujuan yang ingin dicapai oleh Pesantren Darussalam dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju, mandiri, adil, sejahtera, dan diridhai oleh Allah SWT.
Dengan enam visi itulah Pesantren Darussalam menapaki jalan menuju terwujudnya sistem pendidikan pondok pesantren yang modern tanpa kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam.

Mengembangkan Misi Pendidikan Islam

Selain visi yang merupakan salah satu landasan pengembangan pendidikan, Pesantren Darussalam juga mengemban misi sebagai pendidikan Islam, yang dirumuskan dalam lima misi penting dan strategis. Lima misi Pesantren Darussalam tersebut difokuskan pada penyelenggaraan pendidikan Islam, yang dirumuskan dalma lima misi penting dan strategis. Lima misi Pesantren Darussalam tersebut difokuskan pada penyelenggaraan pendidikan, pengkaderan, dan dakwah yang multidimensional, yaitu:
1. Menggelorakan semangat pemurnian ajaran Islam sesuai dengan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang bersumber pada al-Qur’an dan as-Sunnah;
2. Membina budaya keshalihan (keshalihan individual dan keshalihan sosial) dan budaya kepakaran (aksetisme intelektual) di kalangan santri dan masyarakat;
3. Mengembangkan budaya prestasi dan sikap produktif di kalangan santri dan masyarakat;
4. Mengembangkan dan melestarikan ilmu-ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama Islam yang tertuang dalam kitab-kitab kuning dan literatur-literatur modern; dan
5. Mendukung, melaksanakan, dan mengamankan pembangunan nasional di segala bidang secara proaktif, dinamis, ikhlas dan bertanggung jawab.
Lima misi Pesantren Darussalam itu mencerminkan watak kemodernan, tetapi tetap mengakar pada ajaran dan tradisi Islam. Dengan kata lain, sistem pendidikan modern yang dikembangkan tidak terlepas dari ajaran Islam serta tetap berpijak kekayaan dan khazanah intelektual Islam Klasik.

Berpegang pada Motto

Motto Pondok Pesantren Darussalam adalah berupaya membangun muslim moderat, mukmin demokrat dan muhsin diplomat.
Muslim moderat adalah sosok manusia muslim yang dapat bersikap luwes, tenggang rasa, bersolidaritas etis dan sosial, hormat pada sesama, jauh dari sikap angkuh, congkak, dan ingin menang sendiri.
Mukmin demokrat adalah sosok manusia beriman yang berakar ke bawah dan berpucuk ke atas. Pada saat dia di panggung kekuasaan dia tidak melupakan rakyat yang telah membesarkannya; dan pada saat dia turun dari panggung kekuasaan dan harus kembali kepada rakyat, dia tidak putus semangat dan tidak patah harapan.
Muhsin diplomat adalah sosok manusia yang mencintai kebajikan, keindahan, sopan santun, dan berakhlak mulia. Ia akan selalu mengedepankan sifat-sifat yang baik dan terpuji dalam menghadapi berbagai persoalan hidup dan kehidupan.

Menggapai Tujuan Masa Depan

Pesantren Darussalam mengakui bahwa tujuan pendidikan yang ingin diraih belum sepenuhnya tercapai. Namun dengan semangat yang bergelora, Pesantren Darussalam terus berusaha mewujudkan tujuan pendidikannya, yaitu menghasilkan santri yang berkualitas tinggi, yaitu santri yang:
1) Berjiwa Islam, berwawasan kebangsaan, dan berkepribadian utuh;
2) Bersifat terbuka dan tanggap terhadap perkembangan ilmu-ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama Islam, terhadap kemajuan iptek dan terhadap masalah yang dihadapi masyarakat;
3) Menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya sesuai dengan bidang keahliannya dalam kegiatan produktif dan pelayanan kepada masyarakat;
4) Menguasai dasar-dasar ilmu agama Islam beserta metodologi bidang keahliannya sehingga mampu memahami, menjelaskan dan merumuskan cara penyelesaian masalah yang ada di dalam kawasan keahliannya, serta mampu berpikir, bersikap dan bertindak sebagai ilmuwan Islam sekaligus ulama waratsatul anbiya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, upaya perbaikan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan terus dilakukan, mulai dari peningkatan sumber daya manusia, peningkatan sarana dan prasarana, perbaikan dan penyempurnaan kurikulum pendidikan, pembukaan program pendidikan baru, hingga peningkatan kesejahteraan santri, guru, dosen dan karyawan lain.
Dewan guru Pesantren Darussalam terdiri dari para ahli di bidangnya. Sebagian besar mereka adalah alumni Pesantren Darussalam, khususnya alumni IAID Darussalam, dan sebagian kecil berasal dari perguruan tinggi di Indonesia.
Pembinaan terhadap dewan guru dilakukan secara berkala dan terus-menerus, sehingga kemampuan dan kualitas sumber daya manusia dewan guru Pesantren Darussalam dari waktu ke waktu selalu meningkat.
Salah satu upaya yang dipandang amat penting dalam rangka meraih tujuan pendidikan di Pesantren Darussalam adalah peningkatan staf pengajar (ustadz, guru atau dosen) melalui:
1) Pembinaan rutin intensif melalui kegiatan pengajian oleh Dewan Pengasuh, khususnya Bapak Pengasuh Pesantren;
2) Pembinaan terhadap staf pengajar junior melalui kegiatan Ma’had Aly (pesantren tinggi) yang para pengajarnya terdiri dari staf pengajar senior;
3) Pengiriman staf pada kegiatan-kegiatan pelatihan, kursus, seminar, loka karya dan lain-lain;
4) Pengiriman staf pengajar untuk mengikuti pendidikan lanjutan, terutama program Pascasarjana dan Doktoral.
Melalui upaya-upaya tersebut diharapkan staf pengajar Pesantren Darussalam dapat terus meningkatkan kemampuan dan kualitas sumber daya manusianya, serta tidak tertinggal dari berbagai informasi dan perkembangan kontemporer.

Kegiatan Pengajian Kitab

Kegiatan pengajian di Pesantren Darussalam adalah kegiatan yang paling utama selain kegiatan pembelajaran di sekolah/ madrasah. Kegiatan pengajian ini dilaksanakan setelah shalat subuh (ba’da shubuh), setelah shalat ashar (ba’da ashar), setelah shalat maghrib (ba’da maghrib), dan setelah shalat isya (ba’da isya).
Materi dan kitab yang dikaji dalam kegiatan pengajian ini terdiri dari kitab-ktiab Islam klasik dan kitab Islam kontemporer, mulai dari materi Qur’an, Hadits, Tauhid, Akhlak, Fiqh-Ushul Fiqh, dan Ilmu Tata Bahasa Arab (Nahwu, Sharaf dan Balaghah)
Kitab-kitab yang digunakan dalam kegiatan pengajian ini meliputi:
1. Tafsir Qur’an (Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Maraghi)
2. Hadits (al-Arba’in an-Nawawiyah, Bulughul Maram, Subulus Salam, Shahih Bukhari)
3. Tauhid (Jawahirul Kalamiyah, Fathul Majid)
4. Akhlak (Akhlak lil Banin/Banat)
5. Fiqh/Ushul Fiqh (Fath Qarib, Kifayatul Ahyar, Fiqhus Sunnah, Bidayatul Mujtahid, al-Fiqh ‘ala Madzhabil Arba’ah, dan lain-lain)
6. Nahu (Nahwul Wadih, al-Jurumiyah, Mutammimah al-Jurumiyah, Alfiyah Ibn Malik, Mugni Labib)
7. Sharaf (Matan Bina, al-Amtsilah at-Tashrifiyah, al-Kailany)
8. Balaghah (Balaghatul Wadhihah, ‘Uqudul Juman)
Materi-materi pengajian ktiab tersebut dikelompokkan ke dalam tingkat pengajian, mulai dari Tamhidy, Ibtida’i, Wustha dan ‘Ulya.
Sedangkan untuk mendidik dan mengembangkan kader calon ulama, di pondok pesantren ini didirikan Ma’had Aly Darussalam (MAD)

Pendidikan Formal untuk Santri

Sampai saat ini lembaga pendidikan formal mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi sudah ada di Pesantren Darussalam. Lembaga pendidikan formal yang sudah ada itu seluruhnya bercorak keislaman. Namun demikian, Pesantren Darussalam juga memiliki rencana (blue print) untuk penyelenggaraan pendidikan formal umum (SLTP Plus, SMU Plus, dan Perguruan Tinggi Plus) yang bercorak keislaman.
Lembaga-lembaga pendidikan formal yang sudah itu meliputi :
1. Raudhatul Athfal (RA) setingkat Taman Kanak-kanak
2. Madrasah Ibtidaiyah (MI) setingkat Sekolah Dasar
3. Madrasah Tsanawiyah Darussalam (MTsD)
4. Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Darussalam
5. Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri (MAKN) Darussalam
6. Ma'had Aly Darussalam (MAD)
7. Institut Agama Islam Darussalam (IAID), terdiri dari:
a. Fakultas Syari'ah
- Jurusan Ahwal as-Syakhsiyyah
- Jurusan Jinayah Siyasah
b. Fakultas Tarbiyah
- Jurusan Pendidikan Agama Islam
- Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
c. Fakultas Dakwah
- Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
- Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam
d. Program Diploma II
- PGTK/RA
- PGSD/MI
e. Program Pascasarjana (S2)
- Program Studi Pendidikan Islam
Dari keseluruhan lembaga pendidian para santri Darussalam berasal dari berbagai wilayah di Tanah Air, yaitu:
1. Jawa Barat
2. DKI Jakarta
3. Banten
4. Jawa Tengah
5. DI Yogyakarta
6. Jawa Timur
7. Sumatera
8. Bali
9. NTT
10. Kalimantan
11. Sulawesi
12. Papua
13. dan lain-lain.
Kesibukan Santri Sehari-hari
Aktivitas santri sehari-hari di Pesantren Darussalam nyaris tanpa henti, mulai dari pagi hingga malam hari. Aktivitas dan kesibukan santri sehari-hari dapat dilihat pada jadwal harian (daily activities) berikut ini:
Aktivitas keseharian santri Darussalam
Jam
Kegiatan
03.00
03.00-04.00
04.00-06.00
06.00-07.00
07.00-13.30
14.00-17.00
17.30-18.30
18.30-31.00
21.00-23.00
23.00-03.00
Bangun pagi
Qiyamul lail
Shalat Shubuh dilanjutkan dengan Kuliah Shubuh
Makan Pagi, Olahraga dan persiapan ke sekolah
Belajar di madrasah
Kegiatan terjadwal rutin (pengajian kitab klasikal, pengajian intensif atau tutorial, pelatihan computer) dan terjadwal insidental (Pramuka, Paskibra, olahraga, pelatihan musik dan lain-lain
Berjamaah Maghrib dan Kuliah Umum
Kegiatan pengajian ktiab
Menghafal
Istirahat
Catatan:
Selain jadwal rutin di atas, kegiatan-kegiatan insidental terjadwal pada hari-hari dan waktu-waktu tertentu
Continue Reading
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. THE MAN IS MANUNGGAL OF ONE - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger